Beranda Musola

1,5 tahun yang lalu ketika aku masih menjalani kuliah di Jogja, kabar ini sempat membuat heboh di dusunku. Renovasi musola menjadi headline berita di dusunku hingga 14 hari lamanya hingga berbagai musyawarah yang pelik berakhir dan "renovasi" pun dimulai.

Sebelumnya, berhembus kabar bahwa orang kita mengajukan proposal perenovasian musola. Bentuk dana yang akan diberi dibagi menjadi berapa tahap dan harus melalui beberapa persyaratan-persyaratan. Sebelum dana bisa dikucurkan syarat pertama adalah MEROBOHKAN MUSOLA RATA DENGAN TANAH-wtf. Aku yang mendengar seperti itu ya hanya bergumam dalam hati "iki ki piye toh sajake ki renovasi po mbangun anyar".

Tentu kenanganku terhadap musola lama hanya sebatas sudah berwujud bentuk. Akan tetapi emakku yang memang musola itu sudah dibangun semenjak emakku dan orang-orang yang sudah lahir dan mampu pada waktu itu, yang sudah bergotong-royong dalam mengumpulkan material-material bangunan dari sekitar lingkungan dusunku merasa tertusuk mendengar kabar MEROBOHKAN, padahal mereka orangnya sangar-sangar. Lebih sangar dari Kim Jong Un yang punya potongan batok itu.

Tapi mau gimana lagi, karena musyawarah dimenangkan oleh pihak pro “renovasi” maka PEROBOHAN pun tetap akan dilaksanakan pada jadwal yang ditentukan. Hal seperti ini mengangkat desas-desus “Wah Mas Jutiyah karo Pak Rembulan mesti kecipratan ki”. Tak dapat diragukan lagi bahwa kabar itu menyebar cepat sehingga aku pun sedikit takpercaya, banyak percaya pada desas-desus itu.

Untuk mendapat bangunan musola utuh, dana yang diturunkan terbagi 3 gelombang itu kata tetanggaku Pak Renato. Tahap pertama adalah “mematikan” musola. Wah ini anak-anak muda yang semangatnya menggebu-gebu seperti kuda jantan birahi yakan bisa dibayangkan semangat “mematikan” mereka. Ya memang ya anak muda identik dengan hal membunuh, menghancurkan, merusak dan tetek bengek lainnya.

Eksekusi “penghancuran” musola tua dilakukan. Karpet-karpet yang berbaris, mic di pojok belakang buat adzan dan mic buat khotbah, kabel-kabel, lemari penuh al-Qur’aan, tongkat khotbah di mimbar, payung jenazah di pojokan belakang mimbar dan meja ngaji mulai dipindahkan. Mustaka musola mulai dilepas, genteng-genteng mulai diturunkan dan taklupa Toa (padahal gatau merknya apa nyebutnya Toa aja) juga ikut diturunkan.

Sekarang, musola tua yang gagah itu benar-benar mati seperti yang dicita-citakan donatur. Terlihat tinggal kerangka atap yang mulai dilepas satu-persatu dan dinding yang tetap kokoh untuk 1 jam ke depan karena para eksekutor setelah ini mbadog, ngopi dan udat-udut.

Pekerjaan para pemuda itu sebentar lagi usai. Dikikislah bagian bawah dari dinding bercat putih itu sedikit demi sedikit. Bogem dibenturkan dan “DUM” bunyi dapat dirasakan seperti menabuh dada, “DUM, DUM, DUM”. Sekilat kemudian debu menyebar dan mereka mengibaskan tangan mereka, sebagian pergi menjauh dari dedebuan itu untuk mengambil udara dan bersorak-sorak seperti kuda yang sedang melampiaskan birahinya.


Musola sudah dirobohkan dan tidak ada lagi gotong-royong karena pekerjaan pembangunan dilakukan oleh orang-orang yang dibayar. Betapa sibuknya orang-orang jaman ini hingga nggak ada yang tertarik untuk berjariyah untuk rumah abadi mereka. Beda dengan makku dan mak-mak mereka pastinya dulu gotong-royong sebata‒demi‒sebata‒sekrikil‒demi‒sekrikil.


Dan mereka nggak mau lagi bantu selain memberi makan dan snack untuk orang-orang yang dibayar itu, ya setelah sakit hati melihat musola tua yang mereka bangun dimatikan.3 bulan kemudian, musola baru benar-benar bisa digunakan untuk ibadah seperti biasanya.

Sebelumnya, semua kegiatan ritual agama dilakukan di mantan serambi musola dengan menggunakan terpal sebagai atapnya. Alas karpet khas bergambar musola warna dominan hijau yang di bawahnya kayu blabak. Jadi setiap ada langkahan kaki, kayu akan nggathuk dan bercelatuk. Musola yang benar-benar bisa dipakai terbukti hanya menampilkan ke-embuh-an penduduk sekitarnya.

Apalagi orang-orang yang terlibat pembangunan musola. Semua nampak embuh. Menghias, mempercantik, mengelokkan musola hanya untuk dilewati ketika mandi di kali. Menghias, mempercantik, mengelokkan musola hanya untuk dilewati saat ada keperluan untuk mencuci. Menghias, mempercantik, mengelokkan musola hanya untuk dilewati saat mulai panen padi. 

Menghias, mempercantik, mengelokkan musola hanya untuk dilewatkan saat adzan dikumandangkan.
Nggak ada yang beda kok isi dari musola tua dan musola bayi ini selain bertambah tinggi gedungnya. Takmirnya ya Mbah Karyo, Pak Zaelan, Lek Mardi, Pak Zaenudin dan Mbah Saeropi (dipanggil Mbah Kozin) dan orang-orang sepuh itu terus, dan Pak Kiyai tentunya.

Takmir hlo ya bukan bapak yang sibuk ngurusin perbendaharaan perfisikan mesjid, kamu namanya marbot. Ketua takmir abal-abal nggak pernah sama sekali dateng. Nampak waktu jumatan tok. Guru ngaji pun jarang ke masjid. Atau mungkin itu yang memang diajarkan guru ngaji ya, untuk tidak ke masjid selain Jum’atan.

Ya! musola yang terhias, cantik, elok terbukti tidak menambah apa pun kecuali ke-embuh-an. Tidak berpengaruh terhadap reaksi religiusitas dan antusias. Kelahiran musola anyar hanya bagus di atas kertas. Di lain sisi, tempat gaple, remi dan uda-udut yang sederhana, gubug berukuran 2 kali 3 meter itu semakin ramai, apalagi malam tanggal merah.

Lebih banyak jama’ah gaple daripada solat dhuhur. Ini mungkin mengamalkan peribahasa “dan bermain gaple lah bersama para pemain gaple. Ngapain gitu ya nggak ngrenovasi tempat gaple aja kan enak kalau aku main gaple tempatnya luas. Kalau nggak, gaple dipusatkan di masjid dan peribadatan di gubug 2 kali 3 itu aja. Tanggung jika ke-embuh-annya tidak tuntas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak durhaka? Salah siapa?

Jangan lakukan ini ketika kamu puasa (guys only)

how to deal with a long holiday