Anak durhaka? Salah siapa?

Judul di atas apabila dibaca sekilas, mungkin kalian akan berfikir bahwa penulis tidak memiliki keberanian sepenuhnya menyalahkan anak kandung yang durhaka. Ya memang, itulah tujuan penulis untuk membahas melalui perspektif yang menyimpang dari komentator line today pada umumnya.

Peristiwa yang tersebar di media akhir-akhir ini yang memberitakan dengan judul “Durhaka! Anak kandung menggugat ibunya sendiri 1,8 M” bikin menggelitik birahi nurani. Ya memang sih, judul harus dibuat semenarik mungkin. Tapi ini berita hlo, fakta-fakta lah yang harus kalian tulis, sedangkan judul yang ditera merupakan opini redaksi yang dapat menggiring pembaca untuk menyalahkan si anak. Beda denganku, boleh memberikan pendapat, malah harus memberikan pendapat! karena ini merupakan opini penulis belaka dengan sedikit data sekunder diambil dari dunia maya.

Siti Rokhayah (tergugat) yang merupakan Ibu kandung dari Yani Suryani (penggugat), digugat 1,8 M karena terkait masalah hutang yang belum dibayar. Dengan beralasan bahwa hutang yang ditunda pembayarannya tersebut menimbulkan kerugian materiil dan immateriil yang ditotal senilai 1,8 M. Penyelesaian kekeluargaan yang seharusnya bisa menjadi solusi tidak tembus, sehingga dilakukan di persidangan.

Siapa yang salah? Apakah anaknya? Menantunya yang ngotot? Atau pola dan cara asuh ibu yang kelewat gagal. Penulis tidak berani menyimpulkan karena tidak melakukan wawancara secara langsung kepada ke dua belah pihak. Namun, apabila diamati dari lingkungan penulis sendiri, pola asuh orang tua yang kelewat gagal bisa menjadi jawabannya.

Islam yang merupakan agama yang memberikan keadilan, banyak menyatakan bahwa anak wajib hormat dan patuh pada orang tua. Namun, kedurhakaan orang tua ternyata juga ada dalam Islam dan tentunya mengancam orang tua sehingga memperlambat atau malah tertolak baginya untuk masuk surga.

Memaki dan menghina anak merupakan salah satu kejahatan/kedurhakaan orang tua. Sebrengsek-brengseknya anak, makian dan hinaan akan mengena bagi si anak. Bukan kelembutan dan kasih sayang yang ditunjukkan, melainkan malah penghinaan dan perendahan bagi anak. Hal itu dapat menjadi bumerang bagi orang tua. Apa yang kita lakukan baik, dapat menjadi baik bagi kita dan sebaliknya.

Kasih sayang yang berbeda. Apabila kita menukil sejarah Ya’qub yang lebih menyayangi Yusuf dari pada anak-anak yang lain, dapat kita lihat pola perilaku dari saudara Yusuf yang cenderung berulah tidak baik dan malah merugikan Yusuf secara langsung dan Ya’qub secara tidak langsung. Mereka secara refleks mempertahankan diri dengan membuat Yusuf menjadi seorang yang ditolak oleh saudaranya sendiri. Dan ingat, ketika mereka berkata bahwa Yusuf dimakan oleh serigala, Ya’qub tidak bisa berhenti bersedih dan menangis setiap waktu. Menjadi buta dikarenakan air mata dan duka yang terlalu dalam. Kasih sayang yang diberikan Ya’qub yang lebih kepada Yusuf karena kepandaian, ketampanan dan kesolihan, melenakan Ya’qub kepada saudara Yusuf yang lain. Padahal justru ketidak sempurnaan sifat dan watak, dapat dihilangkan apabila Ya’qub lebih memperhatikan kasih sayang kepada anak yang lain.

Kejahatan orang tua yang lain bagi anak adalah tidak memberi pendidikan kepada anak. Bisa kita lihat, betapa sering kesibukan orang tua menjadi alasan bagi mereka untuk menitipkan anak kepada pengasuh. Menitipkan kepada kelompok bermain, na’uwdzubillaah. Orang tua seharusnya menjadi fondasi pendidikan terhadap anak yang masih belia, mendampingi ketika remaja, dan selalu mengingatkan ketika sudah dewasa. Banyak kasus dengan alasan nenek ingin menggendong cucunya, sehingga banyak orang tua menitipkan anak kepada orang tuanya. Dengan alasan pendidikan yang lebih maju, orang tua rela berhubungan jauh dengan anaknya. Waktu-waktu berharga bagi anak untuk selalu bersama orang tua disia-siakan begitu saja. Ketemu tatap muka secara langsung tentu memberi akibat perbedaan signifikan daripada lewat telefon. Kurangnya pendidikan dan perhatian yang dicurahkan kepada anak, dapat berakibat bahwa anak akan tidak tau “siapa orang tuanya sebenarnya”. Anak juga lebih mengerti dan lebih sayang kepada pengasuhnya.

Dengan beralasan mengandung 9 bulan, memberikan ASI, orang tua merasa paling wajib untuk dihormati. Salah salah salah. Akan tetapi sebenarnya kasih sayang dan kedekatan orang tua pokok penting untuk mendidik anak adalah selama dia masih hidup, bukan beralasan sudah dikandung 9 bulan merasa wajib dihormati.

Nah dari sini kita bisa tau kok, tidak sepenuhnya kesalahan anak untuk durhaka kepada orang tua. Namun, semaksimal mungkin cobalah mengerti orang tua dan tetap menghormatinya dan mendo’akan karena mungkin hanya seperti itu dengan segala keterbatasan yang susah dijelaskan terus terang oleh orang tua. Bagaimana pun juga, surga ada di telapak kaki Ibu.


Semoga Tuhan mengampuni dosa orang tua kita dan mengasihinya sebagaimana mereka mengasihi ketika kita masih kecil. Aamiyn.

Untuk calon emak dari anakku, jangan sampai kita durhakai buah hati kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan lakukan ini ketika kamu puasa (guys only)

how to deal with a long holiday